Anak Adalah Investasi

Anak Adalah Investasi
Get The God, Good, Gold

Jumat, 21 Januari 2011

Efek Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usia Prasekolah adalah usia yang rentan bagi anak. Pada usia ini anak
mempunyai sifat imitasi atau meniru terhadap apapun yang telah dilihatnya.
Orang-orang dewasa yang paling dekat dengan anak adalah orang tua.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak yang
mempunyai pengaruh sangat besar. Haryoko (1997: 2) berpendapat bahwa
lingkungan sangat besar pengaruhnya sebagai stimulans dalam perkembangan
anak. Orang tua mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan
kepribadian anak.
Kenyataan yang terjadi di masyarakat, bahwa tanpa disadari semua
perilaku serta kepribadian orang tua yang baik ataupun tidak ditiru oleh anak.
Anak tidak mengetahui apakah yang telah dilakukanya baik atau tidak. Karena
anak usia prasekolah belajar dari apa yang telah dia lihat.
Pembelajaran tentang sikap, perilaku dan bahasa yang baik sehingga
akan terbentuknya kepribadian anak yang baik pula, perlu diterapkan sejak
dini. Orang tua merupakan pendidik yang paling utama, guru serta teman
sebaya yang merupakan lingkungan kedua bagi anak. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hurlock (1978) yang mengungkapkan bahwa orang yang paling
penting bagi anak adalah orang tua, guru dan teman sebaya dari merekalah
anak mengenal sesuatu yang baik dan tidak baik.
Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar, akan sangat
berpengaruh pada perkembangan pribadi dan sosial anak. Kebutuhan yang
diberikan melalui pola asuh, akan memberikan kesempatan pada anak untuk
menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari orang-orang yang berada di
sekitarnya.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang
tua mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan
kepribadian anak. Oleh karena itu, penulis akan membahas suatu
permasalahan yang berjudul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap
Pembentukan Kepribadian Anak.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat disusun suatu
permasalahan yaitu bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap
pembentukan kepribadian anak.
C. Tujuan
Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mendeskripsikan
pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak usia
TK.
D. Pembatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas, penulis membatasai usia
prasekolah yaitu 4 tahun. Sedangkan kajiannya terbatas pada pengaruh pola
asuh orang tua terhadap kepribadian anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pola Asuh Orang Tua dan Kepribadian
1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak
dan bersifat relatif konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat
dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif.
2. Pengertian Kepribadian
Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris
“personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin
“persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W All Port “personality
is the dynamic organization within the individual of those psychophysical
system, that determines his unique adjustment to his environment”.
Menurut bangsa Roma, persona berarti “bagaimana seseorang
tampak pada orang lain”, bukan dari sebenarnya. Aktor menciptakan
dalam pikiran penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan di atas
pentas, bukan impresi dari tokoh itu sendiri. Dari konotasi kata persona
inilah, gagasan umum mengenai kepribadian sebagai kesan yang diberikan
seseorang pada orang lain diperoleh. Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa
dia sesungguhnya termasuk dalam keseluruhan “make up” psikologis
seseorang dan sebagian besar terungkapkan melalui perilaku. karena itu,
kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan spesifik, melainkan
merupakan kualitas perilaku total seseorang.
Berdasarkan definisi Allport, kepribadian ialah susunan sistemsistem
psikofisik yang dinamai dalam diri suatu individu yang unik
terhadap lingkungan.
B. Macam-macam Pola Asuh Orang tua
Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan
kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka.
Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari
tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga
bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang
berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga
memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu
tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus
dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini
cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau
melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini
tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal
kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua
tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti
mengenai anaknya.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar.
Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa
pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau
memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat
sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini
biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.
4. Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang
sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk
keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun
dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah
perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang
depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun
psikis pada anak-anaknya.
Menurut Diane Baumrind dalam Djiwandono (1989: 23-24) pola asuh
orang tua dapat diidentifikasikan menjadi 3, yaitu:
1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh orang tua yang demokratis pada umumnya ditandai dengan
adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Mereka membuat
semacam aturan-aturan yang disepakati bersama. Orang tua yang
demokratis ini yaitu orang tua yang mencoba menghargai kemampuan
anak secara langsung.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan orang tua yang melarang anaknya
dengan mengorbankan otonomi anak. Menurut Danny (1986: 96), pola
asuh otoriter mempunyai aturan-aturan yang kaku dari orang tua.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh permisif ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas
kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginan anak.
Moesono (1993: 18) menjelaskan bahwa pelaksanaan pola asuh permisif
atau dikenal pula dengan pola asuh serba membiarkan adalah orang tua
yang bersikap mengalah, menuruti semua keinginan, melindungi secara
berlebihan, serta memberikan atau memenuhi semua keinginan anak
secara berlebihan.
C. Pola Kepribadian
Istilah “pola” berarti desain atau konfigurasi. Dalam hal pola
kepribadian, sistem-sistem psikofisik yang beragam yang membentuk
kepribadian individu saling berkaitan, dan yang satu mempengaruhi yang lain.
Dua komponen utama pola kepribadian adalah inti “konsep diri” dan jari-jari
roda “sifat-sifat” yang dipersatukan dan dipengaruhi inti.
1. Komponen Pola Kepribadian
a) Konsep Diri
Konsep diri sebenarnya ialah konsep seseorang dari siapa dan
apa dia tau. Konsep ini merupakan bayangan cermin ditentukan
sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain
terhadapnya. Konsep diri ideal ialah gambaran seseorang mengenai
penampilan dan kepribadian yang didambakannya.
Setiap macam konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikologis.
Aspek fisik terdiri dari konsep yang dimiliki individu tentang
penampilannya, kesesuaian dengan seksnya, arti penting tubuhnya
dalam hubungan dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan
tubuhnya dimata orang lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep
individu tentang kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya
dan hubungannya dengan orang lain. Mula-mula kedua aspek ini
terpisah, tetapi selama kanak-kanak secara bertahap aspek-aspek ini
menyatu.
b) Sifat
Sifat-sifat adalah kualitas perilaku atau pola penyesuaian
spesifik, misalnya reaksi terhadap frustasi, cara menghadapi masalah,
perilaku agresif dan defensif, dan perilaku terbuka atau tertutup di
hadapan orang lain. Ciri tersebut terintegrasi dengan dan dipengaruhi
oleh konsep diri. Beberapa di antaranya terpisah dan berdiri sendiri,
sementara yang lain bergabung dalam sindroma atau pola perilaku
yang berhubungan.
Sifat-sifat mempunyai dua ciri yang menonjol:
1) Individualitas, yang diperlihatkan dalam variasi kuantitas ciri
tertentu, dan bukan dalam kekhasan ciri bagi orang itu
2) Konsisten, yang berarti bahwa orang itu bersikap dengan cara yang
hampir sama dalam situasi dan kondisi serupa
2. Perkembangan Pola Kepribadian
Pola kepribadian merupakan hasil pengaruh hereditas dan
lingkungan. Thomas dan kawan-kawan mengatakan, “kepribadian
dibentuk oleh temperamen dan lingkungan yang terus menerus saling
mempengaruhi”. Mereka selanjutnya menerangkan bahwa “jika kedua
pengaruh itu harmonis, orang dapat mengharap perkembangan anak yang
sehat, jika tidak harmonis, masalah perilaku hampir pasti akan muncul”
(93).
Terdapat tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian;
faktor bawaan, pengalaman awal, dan pengalaman-pengalaman dalam
kehidupan selanjutnya. Pola tersebut sangat erat hubunganya dengan
kematangan ciri fisik dan mental yang merupakan unsur bawaan individu.
Ciri-ciri ini menjadi landasan bagi struktur pola kepribadian yang
dibangun melalui pengalaman belajar.
Melalui belajar, sikap terhadap diri dan metode khas untuk
menanggapi orang dan situasi, sifat-sifat kepribadian didapatkan melalui
pengulangan dan kepuasan yang diberikannya. Pengalaman belajar yang
awal terutama didapat dirumah dan pengalaman kemudian diperoleh dari
berbagai lingkungan diluar rumah.
Tekanan sosial dirumah, sekolah dan kelompok teman sebaya juga
mempengaruhi corak sifat-sifat kemudian hari. Bila agresivitas diperkuat
karena dianggap ciri yang sesuai dengan jenis kelamin untuk anak lakilaki,
anak akan berusaha belajar bersikap agresif.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Penerapan Pola Asuh yang Baik bagi Pembentukan Kepribadian Anak
Anak adalah buah hati orang tua yang merupakan harapan masa depan.
Oleh karena itu, anak harus dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya
manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berkepribadian yang baik
berguna bagi masyarakat. Untuk itu, perlu dipersiapkan sejak dini. Anak
sangat sensitif terhadap sikap lingkungannya dan orang-orang terdekatnya.
Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat mempengaruhi kepribadian
anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui bagaimana
cara mengasuh anak dengan baik sehingga terbentuklah kepribadian yang baik
pula.
Kepribadian anak terbentuk dengan melihat dan belajar dari orangorang
disekitar anak. Keluarga adalah orang yang terdekat bagi anak dan
mempunyai pengaruh yang sangat besar. Segala perilaku orang tua yang baik
dan buruk akan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menerapkan
sikap dan perilaku yang baik demi pembentukan kepribadian anak yang baik.
Pola asuh yang baik untuk pembentukan kepribadian anak yang baik
adalah pola asuh orang tua yang memprioritaskan kepentingan anak, akan
tetapi orang tua juga mengendalikan anak. Sehingga anak yang juga hidup
dalam mansyarakat, bergaul dengan lingkungan dan tentunya anak
mendapatkan pengaruh-pengaruh dari luar yang mungkin dapat merusak
kepribadian anak, akan dapat dikendalikan oleh orang tua dengan menerapkan
sikap-sikap yang baik dalam keluarga serta contoh atau tauladan dari orang
tua.
Orang tua yang bisa dianggap teman oleh anak akan menjadikan
kehidupan yang hangat dalam keluarga. Sehingga antara orang tua dan anak
mempunyai keterbukaan dan saling memberi. Anak diberi kebebasan untuk
mengemukakan pendapat, gagasan, keinginan, perasaan, serta kebebasan
untuk menanggapi pendapat orang lain.
Anak-anak yang hidup dengan pola asuh yang demikian akan
menghasilkan karakteristik anak yang dapat mengontrol diri, anak yang
mandiri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stres
dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru.
Pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan
anak. Perkembangan anak dipengaruhi faktor bawaan dan pengaruh
lingkungan.
1. Faktor bawaan
Sifat yang dibawa anak sejak lahir seperti penyabar, pemarah, pendiam,
banyak bicara, cerdas atau tidak cerdas. Keadaan fisik seperti warna kulit,
bentuk hidung sampai rambut. Faktor bawaan merupakan warisan dari
sifat ibu dan bapak atau pengaruh sewaktu anak berada dalam kandungan,
misalnya pengaruh gizi, penyakit dan lain-lain. Faktor bawaan dapat
mempercepat, menghambat atau melemahkan pengaruh dari lingkungan.
Tidak dapat dibandingkan anak yang satu dengan anak yang lain tanpa
memperhitungkan faktor ini.
2. Faktor lingkungan
Faktor dari luar diri anak yang mempengaruhi proses perkembangan anak.
Meliputi suasana dan cara pendidikan lingkungan tertentu, lingkungan
rumah atau keluarganya dan hal lain seperti sarana dan prasarana yang
tersedia misalnya alat bermain atau lapangan bermain. Faktor lingkungan
dapat merangsang berkembangya fungsi tertentu dari anak yang dapat
menghambat atau mengganggu kelangsungan perkembangan anak.
Pengaruh yang sangat besar dan sangat menentukan dirinya nanti sebagai
orang dewasa adalah ketika anak berusia dibawah 6 tahun, sehingga
lingkungan keluarga sangat perlu diperhatikan.
Hakikat mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak
dapat berkembang dengan baik, ketika dewasa menjadi bertanggung jawab.
Pola asuh yang baik menjadikan anak berkepribadian yang kuat, tidak mudah
putus asa dan tangguh menghadapi tekanan hidup. Sebaliknya pola asuh yang
salah menjadikan anak rentan terhadap stres, mudah terjerumus pada hal-hal
yang negatif.
Mengasuh anak melibatkan seluruh aspek kepribadian anak baik
jasmani, intelektual, emosional, keterampilan, norma dan nilai-nilai. Hakikat
mengasuh anak meliputi pemberian kasih sayang dan rasa aman, sekaligus
disiplin dan contoh yang baik. Karenanya diperlukan suasana kehidupan
keluarga yang stabil dan bahagia.
Cara mengasuh anak harus sesuai dengan tahap perkembangan.
Perkembangan anak, sejak dalam kandungan sampai umur 6 tahun, merupakan
pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Perkembangan ini dibagi 4
tahap, tiap tahapan mempunyai ciri dan tuntutan perkembangan tersendiri.
Kebutuhan perkembangan anak meliputi kebutuhan mental, emosional dan
sosial.
Cara mengasuh anak yang sesuai dengan perkembangan anak, dibagi
dalam 4 tahap sebagai berikut:
1. Sejak dalam kandungan
Kesehatan anak di dalam kandungan dipengaruhi oleh keadaan
kesehatan ibunya. Bila ibu sakit fisik (misalnya infeksi), maka anak dalam
kandungan dapat tertular. Bila ibu stres, anak dalam kandungan juga dapat
terpengaruh. Karena itu, ibu perlu mempersiapkan diri dengan baik agar
anak dalam kandungan sehat fisik dan mental. Ibu perlu menjaga pikiran
dan perasaan supaya anaknya nanti tidak rewel dan mudah menyesuaikan
diri.
Suara ibu adalah suara yang sering di dengar anak. Suara keras
atau lembut ibu akan diikuti anak setiap waktu. Bapak dan ibu perlu
menjaga percakapannya supaya anak terbiasa mendengarkan dan mudah
meniru yang baik-baik nantinya. Ibupun harus tenang. Jika ibu sering
cemas, sedih, ketakutan dan marah, maka setelah lahir anak bisa menjadi
rewel, selalu gelisah dan sukar menyesuaikan diri.
2. Sejak lahir sampai 1,5 tahun
Sejak lahir anak sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama
ibu atau pengasuhnya. Anak perlu dibantu untuk mempertahankan
hidupnya. Tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya diri pada
lingkungannya. Bila rasa percaya tidak dapat, maka timbul rasa tidak
aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap
untuk menyampaikan keinginannya. Tangisan pada bayi menunjukkan
bahwa ia membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud
tangisan bayi.
ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan
pemberian asi, bayi akan di dekap ke dada sehingga merasakan kehangatan
tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya.
Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu
dan anak pada tahap ini akan menyebabkan tergangunya pembentukan rasa
aman dan rasa percaya diri. Ganguan yang dapat timbul pada tahap ini
adalah kesulitan makan, mudah marah, menolak sesuatu yang baru, sikap
dan tingkah laku yang seolah-olah ingin melekat pada ibu dan menolak
lingkungan.
3. Usia 1,5 sampai 5 tahun
Tahap ini merupakan tahap pembentukan kebiasaan diri. Aspek
psikososialnya, anak bergerak dan berbuat sesuai kemauan sendiri, meraih
apa yang bisa dijangkau, dapat menuntut apa yang dikehendaki atau
menolak apa yang tidak dikehendaki. Pada tahap ini, akan tertanam dalam
diri anak perasaan otonomi diri seperti makan sendiri, pakai baju sendiri
dan lain-lain. Hal ini menjadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan
harga diri dikemudian hari.
Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas,
menghargai dan meyakini kemampuannya. Jika terdapat gangguan dalam
mencapai rasa otonomi diri, anak akan dikuasai rasa malu, ragu-ragu serta
pengekangan diri yang berlebihan.
Sebaliknya dapat juga terjadi melawan dan berontak. Gangguan
yang timbul pada tahap ini, anak sulit makan, suka ngadat dan ngambek,
menentang dan keras kepala, suka menyerang atau agresif.
Konsep ruang dan sebab akibat mulai berkembang. Mulai
mengenal nama-nama di sekitarnya dan mulai menggolongkan serta
membedakan benda berdasarkan kegunaannya. Bahasa mulai berkembang
dan mulai menirukan kata-kata dan perilaku orang disekitarnya walaupun
anak belum mengerti.
4. Usia 3 sampai 6 tahun (prasekolah)
Dengan meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan
untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan
berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak bersifat ingin tahu, banyak
bertanya dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan
bersama dan menunjukan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tetapi tidak
mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin.
Pada tahap ini seorang ayah mempunyai peran yang penting bagi
anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak
perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat
mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki dan lainlain.
Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Dalam hal ini,
kerjasama ayah dan ibu sangat penting artinya.
Yang diperlukan anak seusia ini adalah melatih kemampuan fisik,
kemampuan berfikir, mendorong anak bergaul dan mengembangkan
angan-angan. Pada tahap ini aspek intelektualnya mulai berkembang lebih
nyata tentang konsep ruang dan waktu, mulai mengenal betuk-bentuk dua
dan tiga dimensi, warna-warna dasar, simbol-simbol angka, matematika
dan huruf. Ganguan yang dapat timbul pada tahap ini adalah masalah
pergaulan dengan teman, pasif dan takut berbuat sesuatu, takut
mengemukakan sesuatu serta kurang kemauan, masalah belajar dan merasa
bersalah.
B. Pola Asuh Orang Tua yang Menyimpang
Pola asuh orang tua yang menyimpang berarti suatu pola yang berbeda
dari pola yang umum diantara anak dengan siapa mereka bergaul. Dan karena
perbedaan ini, anak merasa bahwa mereka menarik perhatian. Sebagai contoh,
anak yang orang tuanya jauh lebih tua dari orang tua teman sebaya atau anak
yang mempunyai orang tua tiri sementara teman bermainnya mempunyai
orang tua kandung, menginterpretasikan hal ini sebagai tanda mereka berbeda.
Pola asuh orang tua yang menyimpang berbahaya untuk penyesuaian
pribadi dan sosial yang baik. Anak cenderung menilai “perbedaan” itu searti
dengan “inferioritas”. Siapa saja yang berbeda dari mereka, dengan standar ini
dianggap “inferior”.
Bila anak dinilai inferior oleh kelompok teman sabaya, penilaian ini
mempunyai pengaruh merugikan pada konsep diri mereka. Mereka
menganggap dirinya inferior dari teman sebaya. Penilaian sosial yang tidak
menguntungkan juga mempengaruhi tingkat penerimaan sosial yang mampu
dicapai anak dalam kelompok teman sebaya.
Seberapa besar bahaya pola asuh orang tua yang menyimpang terhadap
penyesuaian pribadi dan sosial anak akan bergantung pada tiga kondisi yaitu:
1. Sikap sosial yang umum berlaku terhadap pola kehidupan keluarga yang
menyimpang akan mempunyai pengaruh kuat pada sikap teman sebaya.
Sikap sosial ini dipelajari anak dari orang tua dan orang dewasa lain dan
kemudian dijadikannya sikapnya sendiri.
2. Terdapat keragaman menurut kelompok sosial yang memberikan
penilaian.
3. Mencoloknya pola asuh orang tua yang menyimpang mempengaruhi si
anak dalam penyesuaian sosialnya.
Orang tua yang tidak mengerti dengan pribadi anaknya bisa disebut
juga dengan kesalahan pola asuh orang tua. Ada tiga kesalahan pola asuh,
yakni kesalahan pola asuh orang tua, kesalahan pada gen saraf yang dalam
pengobatannya membutuhkan waktu lama dengan cara terapi, dan kelambatan
daya tangkap. Banyak orang tua yang tidak memberikan anaknya bermain
keluar, padahal anak itu perlu bermain. Dalam hal ini kecerdasan emosi anak
sudah diredam oleh orang tuanya. Agar anak mau tinggal di rumah, orang tua
lalu memberikan play station. Dengan demikian anak bermain dengan benda
mati. Akibatnya ketika nanti keluar, dia tidak akan bisa berteman dan
individunya menjadi egois. Ciri-ciri anak seperti itu misalnya, tidak bisa
duduk tenang dan tidak bisa mendengarkan perintah. Lebih baik anak tersebut
bermain bola dengan banyak teman. Dengan begitu akan muncul kerjasama
yang baik, muncul sikap demokratisnya, tahu disiplin, dan mampu merasakan
kalah-menang.
Orang tua perlu meminimalkan gaya pola asuh yang negatif. Menurut
Gagne ada tiga gaya asuh orang tua: pertama, orang tua eksesif yang bisa
disederhanakan dengan ungkapan, “Awas! Ayah/Ibu bisa jadi marah”. Kedua,
orang tua otoriter bisa dicontohkan dengan ungkapan, “Lakukan yang Ibu
katakan!” ketiga, orang tua cuek. Orang tua seperti ini dalam pola asuhnya
mengisyaratkan, “Lakukan apa yang kau inginkan!” keempat, orang tua absen,
adalah orang tua yang bertindak seolah mereka tidak ada, hal ini biasanya
karena orang tua yang sibuk bekerja. Seolah mereka mengatakan, “Tolong
jangan ganggu saya!” kelima, orang tua pelatih (coach) yang menghadapi
anaknya dengan gaya, “ungkapkan keinginan dan pandanganmu!”.
C. Sikap Orang Tua yang Mendukung Pembentukan Kepribadian Anak
yang Baik
Sikap orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi kepribadian anak.
Sikap yang baik yang dapat mendukung pembentukan kepribadian anak antara
lain:
1. Penanaman Pekerti Sejak Dini
Orang tua dan keluarga adalah penanggung jawab pertama dan
utama penanaman sopan santun dan budi pekerti bagi anak. Baru
kemudian, proses penanaman akan dilanjutkan oleh guru dan mansyarakat.
Ketiga unsur ini, menurut Yaumil C. Agoes Achir (2000: 43), hendaknya
bekerja sama secara harmonis.
Sopan santun harus ditanamkan pada anak sedini mungkin. Sebab
sopan santun dan tata karma adalah perwujudan dari jiwa yang berisi nilai
moral. “untuk selanjutnya moral akan turut berkembang dengan yang lain
dan akan dijadikan nilai sebagai pedoman dalam perilaku keseharian”, ujar
Yaumil Achir.
Penanaman nilai baik dan buruk sebaiknya dilakukan perlahanlahan,
sesuai dengan tahap pertumbuhan anak, daya tangkap dan serap
mentalnya. Ajarkan anak bersyukur setelah memperoleh sesuatu, ajarkan
kejujuran, sopan santun, mencintai sesama, memelihara, memperbaiki, dan
lain-lain.
2. Mendisiplinkan Anak
Dengan penerapan disiplin pada anak sejak dini, akan
menumbuhkan pribadi anak yang mandiri. Seorang anak akan belajar
berperilaku dengan cara yang diterima masyarakat, dan sebagai hasilnya
anak dapat diterima oleh anggota kelompok sosial mereka.
Banyak orang tua yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya
ketika anak mulai melanggar aturan yang telah diterapkan bersama dalam
keluarga. Yang terjadi kemudian adalah reaksi emosional yang akhirnya
menimbulkan rasa bersalah orang tua.
Pendekatan yang bisa digunakan orang tua adalah
mengkombinasikan cinta dengan batasan-batasan yang telah disepakati
bersama dalam keluarga. Dr. Carolyn Webster-Stratton menekankan
prinsip disiplin harus dibuat sangat individual, sesuai kebutuhan masingmasing
anak dan keluarga.
3. Menyayangi anak secara wajar
Bagi ayah dan ibu yang bekerja sepanjang hari, atau mempunyai
aktivitas sosial/organasasi yang berlebihan, kebanyakan menitipkan
anaknya kepada ibu pengganti. Itu bisa berarti nenek atau saudara orang
tua sendiri atau menggaji perawat/pengasuh anak. Walaupun tidak
menemaninya sepanjang hari, sikap dan perilaku orang tua dalam
memberikan kasih sayang sebaiknya dilakukan secara wajar. “jangan
memanjakan anak sebagai imbalan atas hilangnya waktu bersama anak
akibat kesibukan orang tua. Apalagi memanjakan anak karena merasa
berdosa, karena meninggalkan anak seharian”, ujar Fawzia Asmin Hadis
(2005: 54).
4. Menghindari pemberian label “malas” pada anak
Banyak orang tua yang acapkali memberi cap atau label “malas”
kepada anaknya. Sebutan ini dapat merugikan anak sebab membuat anak
kurang berusaha karena merasa upaya yang dilakukannya tidak akan
diperhatikan. Bahkan anak akan berlaku sebagaimana diharapkan melalui
label yang disandangnya itu. Label tersebut akan merusak pembangunan
konsep diri anak yang dibentuk sejak masa kecil. Oleh karenanya, para
orang tua hendaknya menghindari pemberian label “malas” kepada
anaknya. Dengan label itu, anak akan merasa diperlakukan tidak adil
menerima cap yang tidak pernah dikehendakinya, ujar Henny Sitepu M.A
(2005: 56).
Hal penting yang harus dilakukan orang tua justru membangun
semangat anak. Hal ini dapat dilakukan melalui kepercayaan yang
diberikan pada anak melalui kegiatan yang unik serta mengandung
tantangan atau dorongan lainnya. Sehingga anak menjadi individu yang
mandiri.
5. Hati-hati dalam menghukum anak
Hukuman yang diberikan orang tua kepada anak adalah hukuman
yang dapat mendidik anak, bukan hukuman yang dapat membuat anak
menjadi trauma. Asumsi bahwa tiap perilaku salah itu disengaja adalah
tidak benar. Anak terkadang tidak mengerti apa yang telah dilakukannya
itu perilaku yang benar atau salah.
Hukuman juga perlu diberikan kepada anak, sehingga anak akan
mengetahui perilaku yang telah dilakukannya itu benar atau salah.
Fungsi hukuman:
a. Menghalangi
Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan
oleh masyarakat. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan
dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut.
b. Mendidik
Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa
tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman
karena melakukan tindakan yang diperbolehkan.
c. Motivasi
Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai
motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
D. Stategi dalam Pembentukan Kepribadian Anak
1. Tekankan Segi Positif
Disiplin yang berhasil mencakup strategi untuk menumbuhkan dan
menekankan perilaku serta kepribadian anak yang baik. Perilaku yang
positif muncul secara alamiah sebagai bagian dari perkembangan yang
normal seorang anak prasekolah. Akan tetapi, perilaku lain ada yang
merupakan bukan bagian normal dari perkembangan anak prasekolah dan
perlu diajarkan. Misalnya, anak prasekolah secara alamiah bersifat
progresif terhadap milik mereka dan harus belajar untuk berbagi. Anak
biasanya mementingkan dirinya sendiri dan harus diajarkan bagaimana
bermain dan bersosialisasi dengan orang lain. Anak prasekolah juga tidak
sabar, sehingga orang tua harus menunjukkan kepada mereka bagaimana
menunggu giliran. Anak tidak secara otomatis akan bersikap sopan, jadi
orang tua mendidik anak-anak mereka dalam hal tata krama. Anak
prasekolah akan belajar dari contoh orang tua, oleh karena itu orang tua
harus dapat menghargai perilaku yang baik ketika anak melakukannya.
Memperhatikan anak ketika anak melakukan hal tersebut. Mengajarkan
anak untuk mengetahuinya pada saat ia melakukan hal yang tepat. Dan
mengajarkan anak untuk mengaitkan perilaku yang tepat dengan perasaan
bangga terhadap dirinya sendiri.
2. Jaga Agar Peraturan Tetap Sederhana
Peraturan yang dibuat sebaiknya peraturan yang di buat bersama.
Jika anak membantu dalam membuat peraturan, lebih besar
kemungkinanya anak akan menuruti peraturan tersebut. Orang tua harus
memilih waktu yang tepat, yaitu ketika anak berperilaku baik kalau tidak
anak akan berpikir peraturan itu akibat dari perilakunya yang salah. Orang
tua mendekati anak dan menjalaskan mengapa peraturan itu ada dan
penting.
3. Bersikap Proaktif
Bersikap proaktif juga berarti memberikan pilihan kepada anak,
menjaga keterlibatan mereka, dan mengizinkan mereka untuk
berpartisipasi. Orang tua memberikan pilihan berarti memperlengkap anak
dengan kayakinan diri dan dapat meminimumkan penolakan. Pada
awalnya bersikap proaktif berarti mengantisipasi masalah yang akan
terjadi. Misalnya seorang anak yang akan pergi dengan ibunya ke tempat
ibadah. Jika orang tua menyangka akan terjadi suatu masalah, maka
bicarakan dengan anak sebelum berangkat. Orang tua memberitahu apa
yang diharapkan dari anak. Orang tua mengatakan, “ibu perlu kerja sama
denganmu sewaktu sholat. kemarin kamu baik sekali. Ibu tahu kamu bisa
seperti itu lagi”.
4. Mengarahkan Kembali Perilaku yang Salah
Mengarahkan kembali terdiri dari dua bagian: mengoreksi perilaku
yang tidak sesuai lalu mengajarkan perilaku yang tepat. Jelaskan kepada
anak mengapa tindakannya itu tidak dapat diterima; lalu jelaskan apa yang
harus dilakukannya, sambil orang tua memberikan contoh yang tepat pada
anak.
Mengarahkan kembali merupakan teknik yang sangat bermanfaat
selama orang tua tidak menyerah. Orang tua jangan memberikan imbalan
untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Kalau tidak anak akan sulit
untuk diarahkan kembali, karena anak tahu bahwa dia akan mendapatkan
apa yang diinginkannya dengan caranya sendiri.
5. Mengatasi Transisi
Transisi adalah perubahan. Misalnya anak telah melakukan suatu
kegiatan dan akan pindah ke kegiatan yang lain. Anak perlu mengubah
dari satu suasana ke suasana yang lain. Transisi sering terjadi dalam sehari
kehidupan anak. Para orang tua yang berhasil selalu mengantisipasi
transisi dan merencanakannya untuk membuatnya selancar mungkin.
Kembangkan strategi transisi yang dimulai dengan peringatan tentang
waktu. Lalu ingatkan anak tentang urutan-urutan kejadian selama tansisi.
6. Negosiasi dan Kompromi
Keterampilan negosiasi dan kompromi mengajar anak untuk
memecahkan masalah melalui komunikasi dan kesepakatan, bukan dengan
memukul atau mengata-ngatai. Negosiasi memberikan suatu cara yang
produktif bagi anak untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal ini
mengurangi perilaku negatif dengan memberikan cara positif untuk
mendapatkan apa yang mereka perlukan dan inginkan. Memecahkan
ketidaksepakatan dimulai dengan mendorong anak untuk melihat hal-hal
dari sudut pandang orang lain.
Kompromi dan negosiasi memberikan lebih banyak kontrol pada
anak atas dunia mereka dan mendorong kerja sama. Mengajarkan
keterampilan ini tidak hanya bermanfaat selama tahun-tahun prasekolah,
ini sangat penting sementara anak bertambah besar dan mencapai usia
remaja dan terbentuknya kepribadian.
7. Jangan Membuat Alasan
Terkadang orang tua memberikan alasan ketika anak mereka
berperilaku salah. Tetapi dengan membuat alasan, secara tidak langsung
orang tua mengajarkan anak untuk berperilaku salah. Kebiasaan
memberikan alasan akan terus menghantui orang tua, orang tua memberi
anak alasan untuk berperilaku salah dimasa mendatang. Anak akan
menggunakan alasan tersebut untuk berdebat dan menghindari tanggung
jawab.
Orang tua biasanya menginginkan cara yang cepat yaitu dengan
menyuap anak agar berperilaku baik. Penyuapan mengajar anak untuk
bersikap argumentatif dan menentang. Penyuapan mendorong perilaku
yang salah. Orang tua jangan memberikan imbalan untuk perilaku yang
tidak dapat diterima. Jangan menyerah pada tuntutan, rengekan, atau
sindiran. Hentikanlah imbalan untuk seterusnya. Bersikaplah konsisten
dan sabar. Ketika anak berperilaku salah, tangani dengan cara yang baik
bukan dengan alasan. Alasan hanya memberikan alasan kepada anak untuk
berperilaku salah.
8. Hindari Kontrol Lewat Rasa Bersalah
Mengendalikan perilaku yang salah dengan rasa bersalah, ejekan,
atau hinaan tidaklah efektif karena merusak harga diri seorang anak. Setiap
ejekan mengikis harga diri dan keyakinan diri seorang anak, serta
menciptakan rasa malu yang kuat. Ketika seorang anak dihina, itu akan
mengakibatkan kerusakan permanen terhadap karakter moralnya. Seorang
anak yang sering dipermalukan atau dihina dapat mulai berpikir ia lebih
rendah dan tidak mampu mengendalikan diri.
Harga diri anak prasekolah masih terlalu rentan pada usia ini.
Orang tua tentu tidak menginginkan anaknya berperilaku baik hanya untuk
menghindari ejekan, akan tetapi orang tua tentu menginginkan anaknya
berperilaku baik karena hal itu memang tepat untuk dilakukan.
E. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Kepribadian
Anak
Anak prasekolah belajar cara berinteraksi dengan orang lain dengan
mencontoh, berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap,
nilai, prefensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh,
termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak prasekolah
belajar banyak dari perilaku mereka dengan mengamati dan meniru perilaku
orang-orang disekitar mereka.
Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak
diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota
keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak selama
tahun-tahun saat desas-desus kepribadian diletakkan, dan pengaruh keluarga
jauh lebih luas dibandingkan pengaruh kepribadian lainnya, bahkan
sekolahpun. Betapa besar pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian
anak telah dinyatakan oleh seorang penulis tak bernama dengan cara berikut:
1. Bila seorang anak hidup dengan kecaman, dia belajar mengutuk
2. Bila dia hidup dalam permusuhan, dia belajar berkelahi
3. Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut
4. Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihi dirinya
5. Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar
6. Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa bersalah
7. Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu
8. Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar yakin akan dirinya
9. Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai
10. Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai dirinya
11. Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai tujuan
12. Bila dia hidup dalam kebijakan, dia belajar menghargai keadilan
13. Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai kebenaran
14. Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya dan
orang lain
Pengaruh keluarga pada perkembangan kepribadian bergantung sampai
batas tertentu pada tipe anak. Misalnya, seorang anak yang sehat akan sangat
berbeda reaksinya terhadap perlindungan orang tua yang berlebihan
dibandingkan dengan seorang anak yang sakit dan lemah.
1. Pengaruh Pola Asuh Oarang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja
terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahuntahun
pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu
berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua.
Kenyataan tersebut menyiratkan betapa pentingnya dasar-dasar yang
diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak. Karena dasardasar
inilah yang akan membentuk kepribadian yang dibawa sampai masa
tua.
Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk
mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Didalam keluarga untuk
pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak
baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar
yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan
baik.
Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya
perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama
bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua
dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga
muda yang semuanya bekerja.
Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari
orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masingmasing.
Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian
lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang
ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang
dibayar orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak
mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang
pengasuh.
Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat
manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena
telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti
semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir
lebih lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan
kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan
mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik dilingkungan
sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka
di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat
keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal
orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik
perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orangtua.
Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih
fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak
sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Akan
tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena
terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan
pangawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja
sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk
bersikap mandiri.
2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan
Berpendidikan Rendah terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang
besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang
mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih
memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi
pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui
bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan orang
tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk
pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang
berpendidikan tinggi umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada
orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam hal lain.
Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang
pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua
kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan
orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan
anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada
saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka
sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola
asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang
kurang baik.
3. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah
Keatas dan Menengah Kebawah
Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang
sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam
keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan
kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia
prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam
keluarga hanya akan menjadi korban dari orang tua.
Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat
perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang tingkat
perekonomiannya menengah kebawah berbeda.
Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam
pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang
diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak
dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan
anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih
sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan
anak.
Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan
membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan
materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan
kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang
lebih rendah darinya.
Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya
menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang dapat
memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat
memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian
dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa
hidup dengan segala kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan
terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan
permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu
permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain.
Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan
keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua
dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan dengan
pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala
yang telah diberikan oleh sang Pencipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar